/1/
Benarkah, jika jalan-jalan itu
hanya bisa kita ingat
ketika rindu?
Benarkah, jika jalan-jalan itu
hanya akan menjadi cerita
ketika kita tak lagi bersama,
ketika bosan bersarang di benak
yang seharusnya tak menemukanmu
juga aku di sini.
Lalu kegamangan kembali
menelusup pelan seiring denyut nadi
dan detak jantung.
Kita hanya bisa beradu pandang
dengan nanar mata semerah senja
dan terdiam seperti jalan
yang penuh guguran daun-daun kering,
sepi...
/2/
Sesal berjingkat riang di atas hati kita,
mengusir semua yang kita punya
hingga kita terseok menahan goresan luka
di kaki perasaan.
/3/
Sesepi apakah taman itu
ketika kulihat kau terduduk sendiri
di bawah derai gerimis?
Segempita apakah hatimu
ketika kau tukar waktumu
untuk tak tetap bersama?
Bukan sekedar untukku, sebenarnya,
tapi juga kerena berjuta kata
yang mengantri di belakangku,
yang tak sabar ingin terlontar
agar kau tau seperti apakah kita,
hanya agar kau tau...
/4/
Lalu jalan-jalan itu tetap diam
sebisu bibir kita
dan kita hampir tak pernah tau,
seperti apakah kita,
seperti apa...
Bangka, 190508
Dwi Rastafara