Ranum warna kelopakmu terbias bak pelangi
di bening rinai gerimis yang sedikit deras.
Mengalur, mencoreng di lelangit pucat kelabu,
nyaris senja.
Mentari sebentar lagi tenggelam, semilir angin
menebar wangimu di udara lembab, berkabut.
Tunggu malam yang sebentar lagi bergulir lalu
mekar di bawah pekat warna merah wajah rembulan,
lagi dan terus menanti detik-detik yang juga bergulir
meniti penghabisan hari. Seperti kemarin atau
hari-hari lalu hingga tiba hari dini.
Bukan lebah atau kumbang yang mengitarimu
kala gelap mayapada. Bukan kupu-kupu
yang menyunting putik-putikmu di bawah merah
wajah rembulan. Namun ngengat yang terbang menggoda
di bawah kuning temaram lampu jalanan.
Ranum kelopak yang tak lagi terbias seperti pelangi
di bawah terangnya, berbias lelah,
risau...
Tegar kau pandang kisah yang kau lewati hari ini
yang nyaris dapat kau reka-reka, seperti telah
kau tulis di agendamu, seperti telah kau rencana.
Lalu sesekali kau palingkan wajah ke langit malam,
entah doa atau harap kau ucap. Hanya bibir semerah
rembulan yang sedari tadi bergumam lirih.
Ranum warna kelopak yang sesore tadi berbias pelangi,
kini pucat di bawah langit subuh yang sebentar lagi
tiba. Dan kau, lelah tertidur dengan peluh yang tak
hilang oleh buih-buih sabun...
Lelah...
Makassar, 0408
Dwi Rastafara